Lonjakan Permintaan yang Tak Terduga
Matcha selama ini dikenal sebagai minuman tradisional Jepang yang identik dengan kualitas premium. Namun, dalam dua tahun terakhir, permintaan global melonjak tajam. Fenomena ini sebagian besar dipicu oleh popularitas matcha di media sosial seperti TikTok dan Instagram, di mana konten pembuatan minuman hijau ini menjadi viral. Video pendek yang menampilkan latte matcha dengan lapisan susu oat atau kreasi es batu estetik membuat semakin banyak orang ingin mencoba dan membeli matcha.
Di Amerika Serikat, Australia, hingga Indonesia, permintaan impor matcha meningkat drastis. Hal ini mengakibatkan persaingan ketat antarimportir untuk mendapatkan pasokan terbaik dari Jepang.
Faktor Cuaca dan Produksi yang Terbatas
Sayangnya, tingginya permintaan tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan. Produksi matcha berkualitas tinggi membutuhkan waktu dan metode khusus. Tanaman teh harus dibayangi selama beberapa minggu sebelum panen untuk menghasilkan rasa umami yang khas. Proses ini tidak bisa dipercepat tanpa menurunkan kualitas.
Tahun ini, kondisi cuaca di Jepang tidak bersahabat. Kekeringan dan perubahan pola hujan memengaruhi hasil panen daun tencha, bahan utama matcha. Beberapa perkebunan melaporkan penurunan produksi hingga 20 persen dibanding tahun sebelumnya.
Dampak Terhadap Harga
Kombinasi permintaan tinggi dan pasokan terbatas menyebabkan harga matcha meroket. Data dari pasar komoditas menunjukkan harga tencha berkualitas premium mencapai lebih dari 8.000 yen per kilogram, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan harga ini berdampak langsung pada konsumen. Matcha latte di kedai kopi besar mengalami kenaikan harga, sementara produk kemasan di supermarket juga menjadi lebih mahal.
Bagi bisnis F&B, kenaikan harga bahan baku memaksa mereka mencari alternatif. Beberapa beralih ke matcha kualitas rendah atau bahkan bubuk teh hijau non-otentik dari negara lain. Sayangnya, langkah ini dapat memengaruhi rasa dan reputasi produk.
Tren Pengganti dan Solusi
Beberapa konsumen mulai mencari alternatif seperti hojicha atau sencha latte yang menggunakan teh hijau jenis lain. Meski tidak memiliki warna dan rasa khas matcha, minuman ini tetap menawarkan profil rasa unik dan kandungan antioksidan yang baik.
Di sisi produsen, ada upaya meningkatkan efisiensi produksi dan memperluas area tanam ke wilayah baru di Jepang. Namun, karena matcha berkualitas tinggi memerlukan keterampilan khusus, butuh waktu bertahun-tahun sebelum kapasitas produksi bisa menyamai permintaan.
Kesimpulan
Fenomena matcha shortage menjadi pengingat bahwa tren global dapat memengaruhi rantai pasokan hingga ke tingkat produsen kecil di pedesaan Jepang. Bagi konsumen, ini adalah kesempatan untuk menghargai proses panjang di balik secangkir matcha. Bagi pelaku usaha, ini saatnya berinovasi dan mencari cara untuk tetap menyajikan minuman berkualitas meski harga bahan baku melonjak.

